“It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.” — Confucius
Setiap Ramadan menuju Lebaran, kita selalu menyaksikan dan mengalami satu program/project besar: "Mudik". Jutaan orang bergerak dengan tujuan yang sama—pulang.
#CMIIW tidak ada PMO secara formal, tidak ada steering committee, tapi secara alami semua orang melakukan planning, risk management, bahkan contingency. Jadwal berubah, rute dialihkan, tiket habis, macet berjam-jam—namun perjalanan tetap dilanjutkan. Tidak sempurna, tapi tetap berjalan.
https://lnkd.in/g9zMrsCx
Fenomena ini mengingatkan pada kisah José M. Hernández. Ia ditolak NASA 11 kali. Pada banyak kasus, satu atau dua penolakan saja cukup membuat seseorang berhenti. Tapi Hernández memperlakukan setiap penolakan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai feedback. Ia melihat gap, mempelajari kandidat yang berhasil, lalu meningkatkan kapasitas dirinya. Ketika orang lain punya pengalaman terbang, ia belajar menjadi pilot. Ketika kompetensi teknis menjadi pembeda, ia memperdalam engineering. Bukan sekadar kegigihan, melainkan iterasi yang terstruktur—sesuatu yang sangat dekat dengan praktik program management dan PMO.
Latar belakangnya pun jauh dari ideal. Tumbuh sebagai anak buruh migran yang berpindah mengikuti musim panen, bahkan baru belajar bahasa Inggris di usia remaja. Namun, ia memiliki tujuan yang jelas dan tidak berubah. Yang berubah hanyalah cara mencapainya. Sama seperti mudik—tujuan tetap kampung halaman, tapi rute bisa berkali-kali disesuaikan.
Akhirnya, pada percobaan ke-12, ia diterima di NASA. Dan pada 2009, ia terbang dalam misi STS-128 menggunakan Space Shuttle Discovery menuju International Space Station. Perjalanannya menjadi bukti keberhasilan bukan hasil dari satu langkah besar, tetapi akumulasi dari banyak penyesuaian kecil yang konsisten.
Ada satu prinsip sederhana yang ia pegang sejak kecil: tentukan tujuan, ukur jaraknya, buat rencana, pelajari apa yang belum dikuasai, dan ketika merasa sudah dekat—justru saat itulah harus bekerja lebih keras. Sebuah kerangka berpikir yang sangat relevan, tidak hanya untuk karier individu, tetapi juga untuk mengelola program, transformasi, dan organisasi.
Di era digital transformation, banyak inisiatif berhenti di awal—proposal ditolak, stakeholder belum align, eksekusi tersendat. Padahal sering kali masalahnya bukan pada visi, tetapi pada daya tahan dalam menjalani proses. Kita terlalu cepat berhenti di “penolakan pertama”, sementara keberhasilan sering kali berada beberapa iterasi di depan.
Seperti mudik, seperti perjalanan Hernández—yang menentukan bukan apakah perjalanan berjalan mulus, tetapi apakah kita tetap bergerak saat tidak mulus.
Because sometimes, the destination isn’t achieved by the perfect plan—but by those who refuse to stop moving.
Selamat Idul Fitri 1447 H

Semua link: https://lnk.bio/wawanridwan
Enjoying WRNOTE? You can support the channel here:
Saweria: https://saweria.co/wrnote
Trakteer: https://trakteer.id/wrnote
Ko-fi: https://ko-fi.com/wrnote
Your support keeps this channel going - thank you for being part of the journey!
No comments:
Post a Comment