Saat membahas cloud computing, tiga singkatan ini hampir selalu muncul: IaaS, PaaS, dan SaaS. Ketiganya adalah delivery models - cara penyedia cloud "mengantarkan" layanannya kepada pengguna, seperti didefinisikan dalam NIST SP 800-145. Perbedaan ketiganya sebenarnya mudah dipahami lewat satu pertanyaan: bagian mana yang dikelola penyedia, dan bagian mana yang tetap menjadi urusan pengguna? Artikel ini merangkum materi perkuliahan Cloud Computing tentang model layanan cloud dengan contoh sehari-hari.
Analogi sederhana: urusan makan
Ambil contoh kebutuhan makan siang sebuah kantor kecil. Ada tiga cara memenuhinya, dan ketiganya persis menggambarkan tiga model layanan cloud.
- Menyewa dapur kosong. Kantor menyewa ruang dan kompor, tetapi membeli bahan, memasak, dan membersihkan sendiri. Ini IaaS: penyedia menyiapkan infrastruktur dasar, sisanya urusan pengguna.
- Menyewa kios siap pakai. Kios sudah lengkap dengan peralatan dan gas; kantor tinggal membawa bahan dan resep, lalu memasak. Ini PaaS: platform siap pakai, pengguna fokus pada aplikasinya.
- Pesan catering. Makanan datang siap santap; kantor tidak mengurus dapur sama sekali. Ini SaaS: aplikasi jadi, tinggal dipakai.
Analogi ini punya batas: di dunia nyata kita tidak menyalin makanan, sedangkan layanan cloud bisa direplikasi dan diskalakan. Tetapi untuk memahami pembagian tanggung jawab, analogi ini cukup membantu.
IaaS - Infrastructure as a Service
Penyedia menyediakan infrastruktur komputasi dasar: server virtual, penyimpanan, dan jaringan. Pengguna mengelola sistem operasi, middleware, dan aplikasinya sendiri. Model ini memberi kendali paling besar, tetapi juga menuntut keahlian teknis paling banyak. Contoh: Amazon EC2, Google Compute Engine, dan Azure Virtual Machines. Cocok untuk tim IT yang ingin fleksibilitas penuh tanpa membeli perangkat keras.
PaaS - Platform as a Service
Penyedia mengelola infrastruktur plus platform pengembangan: sistem operasi, runtime, dan tools. Pengguna tinggal menulis dan menjalankan aplikasi. Model ini mempercepat pengembangan karena tim tidak perlu mengurus server, meski pengelolaan data dan konfigurasi aplikasi tetap di tangan pengguna. Contoh: Google App Engine, Heroku, dan Azure App Service. Cocok untuk developer yang ingin fokus pada kode, bukan pada administrasi server.
SaaS - Software as a Service
Penyedia mengelola hampir seluruh tumpukan teknis; pengguna tinggal memakai aplikasi lewat browser atau aplikasi, biasanya dengan langganan. Tetapi "hampir semuanya" bukan berarti semuanya: pelanggan tetap bertanggung jawab atas data yang dimasukkannya, pengelolaan akun dan hak akses penggunanya, serta konfigurasi pemakaian sesuai kebijakan organisasi - prinsip yang dikenal sebagai shared responsibility. Contoh: Gmail, Google Workspace, Microsoft 365, dan Canva. Cocok untuk pengguna akhir dan organisasi yang ingin langsung produktif.
Membandingkan ketiganya
Semakin ke bawah (dari IaaS ke SaaS), semakin sedikit bagian teknis yang dikelola pengguna - dan semakin kecil pula kendali teknisnya. IaaS menawarkan kendali maksimal dengan tanggung jawab maksimal; SaaS menawarkan kemudahan maksimal dengan kendali minimal; PaaS berada di tengah. Dalam praktik, banyak organisasi memakai ketiganya sekaligus untuk kebutuhan yang berbeda.
Penutup
Memahami IaaS, PaaS, dan SaaS membantu siapa pun membaca penawaran layanan cloud dengan lebih jernih: apa yang sebenarnya dibeli, apa yang masih harus dikelola sendiri, dan apakah model itu sesuai dengan kemampuan tim. Dengan bekal pembagian tanggung jawab ini, keputusan adopsi cloud menjadi lebih tenang dan terukur. Artikel ini disarikan dari materi kuliah Cloud Computing.
Referensi
- NIST Special Publication 800-145, The NIST Definition of Cloud Computing (definisi IaaS, PaaS, SaaS): https://csrc.nist.gov/pubs/sp/800/145/final
Semua kanal Wawan Ridwan: https://lnk.bio/wawanridwan