JS

Pages

Wednesday, April 01, 2026

Fail early, Fail fast


"In preparing for battle I have always found that plans are useless, but planning is indispensable." — Dwight D. Eisenhower

Saat New Normal, bersama tim capital project yang expert di bidang nya, dari officer, project manager, hingga konsultan, namun belum ada kesatuan bahasa yang sama bagaimana seharusnya sebuah capital project dikelola (Way of Working).

Bukan karena tidak mengetahuinya. Tapi karena tidak ada framework yang menjadi pijakan bersama, diakui dan dikerjakan bersama.

Perjalanan panjang membangun sebuah tata kelola kapital yang benar-benar fungsional dimulai — bukan dokumen yang hanya hidup di SharePoint/ERP/WorkFlow semata, tapi sebuah sistem/mekanisme yang mengubah cara orang berpikir dan membuat keputusan didalam sebuah project management yang terklasifikasi, baik itu big, medium maupun small project.

Ada 3 prinsip yang menjadi fondasi.

- Pertama, setiap investasi modal (Capital Investment Portfolio) punya visibilitas yang jelas:
Bukan sekadar approved, tapi bisa dipertanggungjawabkan: ke mana uang mengalir/cash flow, dan apakah ia menciptakan value/nilai? (Business Accumen)

- Kedua, proyek yang salah arah jauh lebih mahal jika dibiarkan hidup terlalu lama:
Prinsip "fail early, fail fast" bukan slogan pesimis, tapi prinsip disiplin finansial yang krusial.

- Ketiga, governance tidak bisa one-size-fits-all: 
Sebuah proyek $5Mio tidak bisa disamakan dengan proyek $500Mio. Right-sizing assurance berdasarkan capital cost-complexity adalah kunci agar governance tidak berubah menjadi birokrasi yang membunuh kecepatan dalam proses eksekusi baik itu berupa project, program, operational, atau portofolio nya.

Flyvbjerg et al. (2002) menunjukkan rata-rata infrastructure project besar mengalami cost overrun hingga 28% berdasarkan model estimasi dan forecast yang sudah ada dalam project plan-nya, dan hampir separuhnya bukan karena technical failure — tapi governance failure di fase awal, ketika keputusan dibuat dengan informasi yang tidak cukup. https://lnkd.in/gxZq-_N9

Yang terlupakan membangun framework sistem seperti ini bukan tools-nya, templates, tapi change management-nya. Framework canggih tidak bergerak tanpa adoption/adaptasi dan proses commissioning-nya yang baik. Khusus adoption tidak datang dari training atau sosialisasi satu kali, melainkan dari kepemimpinan yang visible, bertahap dan berulang, serta dari sistem yang cukup sederhana untuk diikuti orang baru di hari pertama(onboarding cycle), dan dari culture membuat keputusan di state-gate yang tepat(Power Skills)

Framework bukan tentang kontrol. Ia adalah infrastruktur fondasi dari setiap pengambilan keputusan — yang memungkinkan semua orang, dari officer, project manager, hingga board, untuk bergerak lebih baik, cepat, precise, dengan lebih sedikit kekeliruan.

The best governance doesn't slow projects down. It stops the wrong ones, before they become too expensive to kill.

Image:
https://lnkd.in/g8W4hz7q

Semua link: https://lnk.bio/wawanridwan

Enjoying WRNOTE? You can support the channel here:
Saweria: https://saweria.co/wrnote
Trakteer: https://trakteer.id/wrnote
Ko-fi: https://ko-fi.com/wrnote
Your support keeps this channel going - thank you for being part of the journey!

No comments:

Post a Comment