Bagi sebagian besar pekerja, perjalanan menuju kantor atau pulang ke rumah adalah rutinitas harian yang cukup memakan waktu. Duduk di bangku kereta/KRL yang melaju, berdiri di bus kota yang penuh sesak, atau berdiri berpegangan di dalam MRT yang melaju cepat, sering kali menjadi momen yang terasa terbuang begitu saja. Tapi sebenarnya, waktu-waktu seperti ini bisa menjadi ruang produktif yang tak tergantikan—kalau kita tahu cara memanfaatkannya.
Saya sendiri mengalami perjalanan pulang-pergi kerja yang cukup panjang setiap harinya. Namun, memilih untuk mengisinya dengan hal yang bermakna dan bermanfaat, bukan sekadar scroll media sosial tanpa arah atau tenggelam dalam lamunan, meski itu menarik. Salah satu kegiatan rutin yang saya jalani adalah belajar bahasa menggunakan aplikasi Duolingo.
Duolingo adalah aplikasi belajar bahasa yang ringan, interaktif, dan mudah digunakan. Cocok sekali untuk digunakan saat menunggu atau sedang di perjalanan. Dalam satu sesi singkat sekitar 5-10 menit, kita bisa menyelesaikan beberapa pelajaran, entah itu tentang vocabulary, grammar, listening, maupun pronunciation. Semuanya disajikan dalam bentuk kuis interaktif yang menyenangkan, seolah sedang bermain game tapi tetap belajar.
Saat ini, sudah mencapai skor level 130 untuk bahasa Inggris, menurut standar CEFR (Common European Framework of Reference for Languages), skor ini setara dengan level B2, IELTS 6.5–7.0 ≈ TOEFL 90–100, artinya sudah berada pada tingkat upper intermediate. Sembari mulai menantang diri dengan belajar bahasa lain seperti Rusia, Jepang, Spanyol, Portugis, hingga Mandarin. Bahkan, Duolingo sekarang juga menyediakan kursus untuk topik lain seperti Matematika atau Music dan lainnya, yang menurut saya sangat menarik untuk mengasah logika dan konsistensi berpikir.
Kita percaya, bahasa adalah jendela kita terhadap dunia. Dengan menguasai lebih banyak bahasa, kita bisa memahami lebih banyak budaya, mengembangkan potensi/mengasah diri, membuka peluang global, atau bahkan sekadar memperkaya wawasan pribadi. Bayangkan saja, waktu satu jam di perjalanan setiap hari, jika dikumpulkan selama sebulan, bisa menjadi lebih dari 20 jam belajar. Itu sudah setara dengan satu semester kelas bahasa dasar.
Waktu yang kita anggap "idle" sebenarnya bisa diubah menjadi ruang pertumbuhan pribadi. Anda tidak harus menggunakan Duolingo, bisa juga baca buku digital, dengar podcast pengembangan diri, atau menulis jurnal singkat. Tapi intinya adalah: kendali produktivitas ada di tangan kita sendiri, bukan pada tempat kita berada.
Mari mulai melihat perjalanan harian bukan sebagai beban, tapi sebagai peluang. Karena dalam diamnya kereta, MRT atau gemuruhnya bus, kita tetap bisa tumbuh. Selama kita punya niat, alat yang tepat, dan waktu yang tidak disia-siakan—kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita, satu perjalanan kecil pada satu waktu.
Boleh di add friend Duolingo @wawanridwan




Semua link: https://lnk.bio/wawanridwan
Enjoying WRNOTE? You can support the channel here:
Saweria: https://saweria.co/wrnote
Trakteer: https://trakteer.id/wrnote
Ko-fi: https://ko-fi.com/wrnote
Your support keeps this channel going - thank you for being part of the journey!
No comments:
Post a Comment