“dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah;
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!”
— Sapardi Djoko Damono, Dalam Diriku (1980)
https://lnkd.in/gsWjRCyk
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering kita lupakan: bagaimana kita menjaga performa ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang bertanya, dan tidak ada yang menagih?
Kita bisa sangat disiplin ketika ada atasan, deadline, meeting, atau seseorang yang menunggu hasil. Tetapi ketika tidak ada yang mengawasi, muncul kalimat yang sangat manusiawi: “Nanti saja.” Di sinilah ownership sebenarnya diuji.
Seperti pesan William Ernest Henley dalam Invictus: “I am the master of my fate, I am the captain of my soul.” Kita tidak selalu bisa memilih keadaan, tetapi kita masih bisa memilih respons dan tindakan berikutnya.
https://lnkd.in/gPSBXXip
Dalam pekerjaan, bentuk ownership yang sederhana adalah tidak menunggu ditanya untuk memberikan update. Pekerjaan yang sudah dikerjakan tetap dilaporkan, progress dibuat terlihat, risiko disampaikan, dan hambatan diangkat. Dalam project communication, ini adalah perbedaan antara pull communication—stakeholder harus mencari informasi—dan push communication—kita secara proaktif memberikan informasi yang mereka perlukan.
Contohnya: jangan hanya menulis, “Project masih berjalan.” Berikan konteks: “Progress update; dua aktivitas completed, satu masih berjalan karena dependency X; ada potensi delay dua hari; mitigasi sedang dilakukan dan target recovery week2 on sep 2026.” Singkat, tetapi membuat pekerjaan dan risikonya terlihat.
Ini bukan sekadar kebiasaan administratif. Meta-analisis Liang (2026), yang mencakup 127 studi dan 12.456 karyawan, menemukan bahwa proactive behavior berkaitan dengan personal performance dan success, dengan job performance dan proactive behavior menjadi bagian dari jalur hubungan tersebut (DOI: 10.3389/fpsyg.2026.1806615).
Meta-analisis lain oleh Rudolph et al. terhadap 122 sampel dan 35.670 pekerja juga menemukan hubungan job crafting dengan berbagai work outcomes, termasuk performance (DOI: 10.1016/j.jvb.2017.05.008).
Mari praktikkan: tidak ditanya, tetap update. Tidak ada meeting, tetap dokumentasikan. Ada risiko, sampaikan lebih awal. Ada hambatan, segera koordinasikan. Pekerjaan terasa berat, pecah menjadi langkah kecil. Muncul “nanti saja”, mulai 10 menit.
Menjaga performa bukan berarti selalu bekerja keras. Performa juga tentang konsistensi, ownership, komunikasi, dan inisiatif untuk membuat pekerjaan tetap bergerak tanpa harus terus-menerus didorong.
Karena kualitas kita mungkin justru paling terlihat bukan ketika ada yang mengawasi, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Semua link: https://lnk.bio/wawanridwan
Enjoying WRNOTE? You can support the channel here:
Saweria: https://saweria.co/wrnote
Trakteer: https://trakteer.id/wrnote
Ko-fi: https://ko-fi.com/wrnote
Your support keeps this channel going - thank you for being part of the journey!
No comments:
Post a Comment